Pengamatan dilakukan di kantin kampus karena kantin merupakan pusat aktivitas konsumsi harian mahasiswa, khususnya makanan dan minuman. Sebelum observasi, disiapkan alat pencatatan berupa buku catatan dan ponsel untuk mencatat temuan penting selama pengamatan. Waktu observasi dialokasikan selama kurang lebih 30–60 menit pada jam makan siang, yaitu saat tingkat aktivitas konsumsi berada pada kondisi paling tinggi sehingga perilaku konsumsi dapat diamati secara lebih representatif.
Proses Pengamatan dan Pencatatan
Selama observasi, dilakukan pengamatan langsung terhadap interaksi konsumen dengan produk dan layanan di kantin. Ditemukan beberapa praktik konsumsi yang tergolong tidak berkelanjutan dan sering terjadi. Perilaku tersebut antara lain pembelian minuman kemasan plastik sekali pakai yang langsung dibuang setelah digunakan, penggunaan kantong plastik untuk makanan yang dikonsumsi di tempat, serta pemakaian alat makan plastik sekali pakai seperti sendok, garpu, dan sedotan. Selain itu, sering ditemukan makanan yang tidak dihabiskan dan akhirnya dibuang, serta penggunaan kemasan styrofoam atau plastik multilayer untuk membungkus makanan. Perilaku-perilaku tersebut terjadi dengan frekuensi sering hingga sangat sering dan menghasilkan dampak negatif berupa penumpukan sampah plastik serta pemborosan sumber daya pangan.
Analisis dan Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan, perilaku konsumsi tidak berkelanjutan di kantin kampus terutama dipicu oleh faktor kepraktisan, kebiasaan, dan minimnya alternatif ramah lingkungan. Konsumen cenderung memilih opsi yang paling cepat dan mudah tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan. Di sisi lain, pengelola kantin lebih banyak menggunakan kemasan dan alat makan sekali pakai karena dianggap efisien dan ekonomis.
Dapat disimpulkan bahwa kantin kampus masih menunjukkan pola konsumsi yang belum berkelanjutan dan telah menjadi kebiasaan sehari-hari. Tanpa adanya upaya perubahan dari pengelola maupun konsumen, praktik ini berpotensi terus berlanjut dan memperbesar dampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kesadaran dan penyediaan sistem pendukung agar perilaku konsumsi yang lebih berkelanjutan dapat diterapkan di lingkungan kampus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar